Jumat, 19 Oktober 2018

Manusia Sebagai Titah Tuhan


Tuhan menciptakan manusia itu manifesto dari Tuhan itu sendiri . Tuhan itu tidak bisa dibayangkan bagaimana wujudnya , semakin anda membayangkan Tuhan itu maka anda akan semakin kebingungan . Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini . Manusia harus bisa mengatur dirinya sendiri dan dapat mengatur orang lainnya . Namun terkadang manusia itu lalai , mereka bisa mengatur dirinya sendiri , namun tak bisa mengatur orang lainnya .
Menurut Bapak Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama , yakni Ki Hajar Dewantara bahwa manusia itu titahing Gusti . Apa sih itu titahing Gusti? Nah titahing Gusti disini bisa dimaksudkan bahwa manusia memiliki tugas sebagai penyampai kebaikan kepada manusia yang lainnya.
Manusia diciptakan sebagai khilafah dibumi karena bumi sebagai pusat dari tata surya , entah anda penganut heliosentris ataupun geosentris . Manusia harus bisa menjadi teladan diri sendiri ataupun bisa mengatur orang lainnya. Manusia harus benar benar bisa menjaga alam di bumi , menjaga berkelangsungan hidup di muka bumi , menghindari hal hal buruk yang bisa merusak bumi ini . Manusia harus bisa mengupayakan beberapa hal untuk menjaga di bumi . Dan harus menghindari hal hal yang tidak diinginkan . Menghindari penebangan hutan secara liar , tidak untuk membuang sampah sembarangan . Hal kecil ini dapat menyelamatkan bumi dari kehancuran . Karena sebagai khilafah manusia memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk menjadi pemimpin dimuka bumi ini .
Ada suatu cerita yang disampaikan oleh Bapak Aniq , suatu ketika di sebuah ppondok pesantren yang ada para santri ada yang santri yang sudah lama dan masih ada santri baru , santri yang sudah lama ini membawa buku yang banyak dan kemudian santri yang baru ini berkatawah ,, kitabnya banyak .
Pada akhirnya para santri berdiskusi bersama , santi lama memiliki pernyataan “ kenapa ketika dzikir ada orang yang menggelangkan kepala?” santri lama pun memikirkan dengan amat serius . Hingga diskusi hingga malam , kemudian pada malam itu Pak Kiai datang , para santri menundukkan kepala , pak Kiai meminta pada santri kopi , kemudian dituang pada gelas dan diberi pak kiai . Kemudian pak Kiai meminum dan berkata “ MasyaAllah , enak e kopi iki” sembari meminum  menikmati kopi menggelengkan kepala . Akhirnya santri baru menemukan jawaban bahwa hanya meminum kopi saja nikmatnya bisa sampe menggelengkan kepala , bagaimana dengan nikmatnya dzikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar